Syalom,
Beberapa waktu yang lalu ketika saya mengajar di salah satu Sekolah Alkitab, seorang siswa bertanya?
Pak, apakah Tuhan itu Maha Kuasa?
Yah, dan itu sudah pasti, Ia Maha Kuasa
Pak, Apakah Tuhan itu Maha Pencipta?
yah, itu benar, keberadaan kamu membuktikan Dia Maha Pencipta.
Kalau begitu Pak, Sanggup tidak Allah menciptakan sesuatu yang tidak bisa diangakatNya?
Saya merenung sejenak, sambil berfikir
kalau saya katakan sanggup, maka siswa ini akan berkata, "Tetapi Ia Maha Kuasa, kenapa Ia tidak dapat mengangkat benda itu"
Kalau saya katakan tidak sanggup, maka siswa ini akan berkata, "Berati Ia bukan Maha Pencipta, karena Ia tidak dapat menciptakannya"
Setelah beberapa saat saya berfikir, saya pun memberikan suatu pertanyaan sekaligus pernyataan, Apakah kamu berdosa ? ia saya berdosa Pak
Apakah kamu Berdosa karena Allah? tidak Pak
Tetapi mengapa kamu berdosa? Sianak diam dan berkata "Pak, mengpa pertanyaan saya tidak di jawab"
Jawabannya ada pada otak kamu. Ia pun bingung
Kembali saya berkata. Coba maju dua orang siswa dan berdiri saling berhadapan.
Kemudia mereka maju, saya berdiri di tengah-tengah mereka. Kemudia saya bertanya kepada mereka berdua, di sebelah manakah kiri atau kanan itu?
Mereka berpandangan, karena kiri bagi siswa yang satu adalah kanan bagi siswa yang lain serta sebaliknya, dan itu adalah depan bagi saya. Mereka diam.
Saya kemudi berkata, pertanyaan kamu hampir sama dengan pertanyaan saya.
Jawabannya adalah didalam otak kamu dan itu itu tergantung kepada sejauh mana pengenalan kamu kepada Allah.
Si anak diam dan merenung.