Panggilan Hidup Suci
(1 Yohanes 1:1-7)
BERSEKUTU dengan Allah secara sempit bisa diartikan: ‘berdoa’, ‘beribadah’ atau ‘aktip di gereja’. Secara luas, ‘bersekutu dengan Allah’ berarti memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Hubungan yang baik dengan Allah dirintis oleh Yesus melalui karya penebusan di kayu salib. Oleh penebusan itu manusia dimungkinkan untuk membuka lembaran baru yaitu: berhubungan dengan Allah dan menjumpai sesama dengan cara pandang dan sikap yang baru.
Dengan demikian tidak sulit untuk menangkap pesan dari firman hari ini. Hal itu sesuatu yang masuk akal. Orang yang bersekutu dengan Allah hendaknya meninggalkan segala bentuk kegelapan. Kegelapan itu bisa berupa perilaku hidup yang jahat, ketidakperdulian kepada sesama, pengabaian hukum-hukum Tuhan, hidup yang tanpa arah, hidup yang terpusat kepada diri sendiri, dst.
Bersekutu dengan Allah berarti menjalani hidup yang suci. Kesucian itu, di satu sisi adalah pemberian Allah. Allah telah menyucikan kita dari dosa. Tapi di sisi yang lain, kesucian itu adalah sebuah komitmen dari orang yang percaya. Orang yang telah mengaku ketidaklayakan dirinya dan telah menggantungkan hidupnya kepada anugerah pengampunan Allah, selanjutnya akan menggantungkan hidupnya kepada pemeliharaan dan pertolongan Allah.
Pemeliharaan dan pertolongan Allah sajalah yang memungkinkan kita untuk mewujudkan hidup yang suci dan yang berkenan kepada Allah. Allah menolong kita dengan memberikan kepada kita perlengkapan yaitu dengan Firman dan tuntunan RohNya. Itu sudah pasti. Yang jadi soal adalah bagaimana dengan komitmen kita?
Sudahkah kita memiliki komitmen untuk menggantungkan seluruh hidup kita kepada anugerah dan pertolongan Allah? Jika sudah, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana mengisi hidup kita seturut dengan kehendak Allah. Allah menghendaki agar umatNya hadir di dunia ini menjadi alat terang bukan alat kegelapan. Allah menghendaki agar umatNya hidup dan di manapun berada dapat menjadi alat kebenaran dan bukan alat kejahatan.
Firman Minggu ini dari 1 Yohanes 1:1-7 ingin menggugah umatNya agar tidak jemu-jemunya untuk mengikis dan meninggalkan sisa-sisa kejahatan yang mungkin masih menggerogoti hidup dan persekutuan umatNya. Itu adalah sebuah perjuangan yang permanen dari umat Allah selama kejahatan itu masih mengancam!
Secara kasat mata yang hendak disorot adalah perilaku hidup anak manusia. Perilaku hidup anak manusia tidak hanya tertoreh dalam tinta dan lensa bikinan manusia. Yang terlebih penting adalah torehan dalam tinta alam. Alam menjadi saksi akan aksi dari anak manusia yang perduli dengan korban gempa bumi dan perduli dengan penderitaan orang lain. Alam juga menjadi saksi dari seorang anak manusia yang melakukan kekerasan terhadap anak, terhadap orang lain atau terhadap siapa saja dengan alasan apa saja!