ARTI DAN
MACAM-MACAM BAPTISAN

 

8 JENIS
BAPTISAN

Secara Teologis, baptisan bisa didefinisikan sebagai suatu tindakan
untuk bersatu atau berkenalan dengan seseorang, kelompok tertentu, pesan
tertentu, atau kejadian tertentu.

Baptisan dalam agama misteri
Yunani
menghubungkan para
calon penganut dengan agama tersebut.

Baptisan dalam agama Yahudi menghubungkan pemeluk agama baru itu
dengan Yudaisme.

Baptisan Yohanes Pembaptis menghubungkan para pengikut Kristus
dengan BeritaNya tentang kebenaran (secara kebetulan, Yohanes Pembaptis
nampaknya merupakan orang pertama yang pernah membaptiskan orang lain—biasanya
baptisan dilakukan sendiri). Karena Yakobus dan Yohanes dibaptis dengan Baptisan Kristus, maka berarti

Baptisan Kristus  dihubungkan dengan penderitaanNya (Markus
10:38-39).

Dibaptis dengan Roh Kudus menghubungkan seseorang dengan tubuh
Kristus (1 Kor 12:13) dan dengan kehidupan baru di dalam Kristus (Rm 6:1-10).

Dibaptis di dalam Musa berarti mengakui kepemimpinanannya dalam
membawa orang Israel keluar dari Mesir (1 Kor 10:2).

Dibaptis bagi orang mati berarti berada di pihak kelompok Kristen
dan mengambil tempat sebagai orang Percaya yang telah meninggal (1 Kor 15:29).

Baptisan Kristen berarti pengenalan terhadap berita Injil,
pribadi Juruselamat, dan kelompok orang-orang percaya.

Beberapa baptisan yang disebutkan tadi tidak menggunakan air.

Bayangkan betapa
menyedihkannya kita jika tidak mempunyai pengertian yang tepat tentang arti dan
macam-macam baptisan.

 

Subjek Baptisan

Apakah hanya orang percaya saja
yang dibaptis atau haruskah bayi (dari orang tua yang percaya) juga dibaptis?

Pendapat yang menyetujui
Baptisan anak/bayi antara lain sebagai berikut:

  1. pendapat Sunat. Kolose 2:11,12 dengan
    jelas menghubungkan sunat dengan baptisn. Karena menurut Perjanjian Lama
    setiap bayi disunat, maka menurut Perjanjian Baru mereka harus
    dibaptiskan. Pendapat ini berdasarkan Teologi Perjanjian (Covenant
    Theology) yang mengandung arti bahwa sunat sebagai langkah awal untuk
    menerima janji keselamatan dalam Perjanjian Lama dan baptisan dalam
    Perjanjian Baru. Upacara ini menunjukkan keanggotaan dalam perjanjian itu,
    tidak perlu iman pribadi (bacalah James Buswell, A Systematic Theology of
    The Christian Religion [Grand Rapids: Zondervan, 1962], 2:262)
  2. pendapat Historis. Sejak semula
    gereja mempraktikkan baptisan anak; karena itu baptisan tersebut
    diperbolehkan. Bapa-Bapa gereja sangat mendukung baptisan anak, seringkali
    menghubungkannya dengan sunat, namun fakta bahwa gereja mula-mula
    melakukan atau mempercayai sesuatu tidak dengan sendirinya membenarkan hal
    itu (membuat hal itu ALKITABIAH-sesuai ajaran Alkitab—penekanan Dede).
    Beberapa orang dalam gereja mula-mula mengajarkan Kelahiran Kembali
    melalui Baptisan, dan hal itu merupakan pengajaran BIDAT.
  3. pendapat seisi rumah. Seisi rumah
    dibaptiskan dalam zaman Perjanjian Baru. Mungkin sekali bahwa beberapa
    bayi setidak-tidaknya termasuk dalam seisi rumah tersebut (Kis 11:14,
    16:15,31, 18:18, 1 Kor 1:16). Beberapa orang juga mengatakan bahwa menurut
    1 Kor 7:14 bukan saja mengizinkan, namun bahkan mengharapkan baptisan bayi
    dalam suatu rumah tangga di mana salah satu orang tuanya telah menjadi
    percaya.

 

Pihak yang menentang Baptisan bayi/anak kecil dan karena itu mendukung
Baptisan untuk orang yang percaya
menyatakan:

  1. Bahwa Alkitab selalu mengajarkan percaya dahulu, dan kemudian baru dibaptiskan (Mat
    3:2-6; 28:19; Kis 2:37,38; 16:14,15,34).
  2. Bahwa Baptisan merupakan upacara yang
    harus dijalani orang yang hendak masuk ke dalam suatu kelompok orang
    percaya, gereja; karena itu, baptisan hanya boleh
    dilakukan bagi orang percaya.
    Sebaliknya, sunat memasukkan oarng
    (termasuk bayi) ke dalam suatu teokrasi yang di dalamnya juga terdapat
    orang yang tidak percaya.
  3. Bahwa usia anak tidak pernah
    disebutkan dibagian manapun yang menyebutkan tentang baptisan seisi rumah.
    Tapi dikatakan bahwa semua yang dibaptis di dalam
    rumah itu
    menjadi
    percaya.
    Jadi hal ini tidak meungkin memasukkan bayi
    dalam baptisan tersebut.
  4. Jika 1 Kor 7:14 mengizinkan atau
    mengharuskan baptisan anak-anak dalam satu rumah tangga/keluarga dimana
    salah satu orang tuanya telah percaya, maka hal itu juga akan mengizinkan
    atau mengharuskan baptisan bagi orang dewasa yang belum percaya.

 

ORANG2 YANG
DIBAPTIS

Baptisan diperuntukkan bagi
orang-orang yang secara pribadi dan sukarela bersedia menanggapi panggilan
keselamatan. Dalam Perjanjian Baru, calon baptisan adalah orang yang akan
diajar
(Matius 28:20), yang telah
menerima Firman Allah
(Kisah 2:41), dan yang telah menerima Roh Kudus (Kisah 10:47). Beberapa orang
dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya (Kisah 10:48; 16:15,33;18:8; I Kor
1:16), sehingga ada yang menafsirkan bahwa berarti bayi-bayi juga dibaptis. Telah
dianjurkan bahwa baptisan bayi semacam ini sama dengan upacara sunat dalam
Perjanjian Lama. Untuk menanggapi pendapat semacam ini, kami mengatakan bahwa ”seisi rumah” seperti dipakai di atas
belum tentu berarti bahwa BAYI; dan selanjutnya, dalam kasus-kasus tersebut
maka mereka yang dibaptis itu adalah orang-orang
yang
sudah mendengar pemberitaan
Firman Allah
(Kisah 10:44) dan percaya (kisah 16:31,34). Tidak pernah Alkitab mengajarkan bahwa bayi
harus dibaptis.
Penyerahan anak kepada Tuhan oleh orang tuanya merupakan
cara yang lebih dapat dipertanggungjwabkan daripada baptisan bayi.” (Henry Clarence Thiessen, Teologi Sistematika,
Gandum Mas)

 

Baptisan
Ulang

Hanya ada satu contoh yang
jelas tentang orang yang dibaptis 2 kali (Kis 19:1-5). Ke-12 orang ini, yang
telah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, dibaptis kembali oleh Paulus setelah
mereka mepercayai berita tentang Kristus. Hal ini memberikan suatu contoh
tentang perlunya konseling bagi mereka yang telah dibaptis entah sebagai bayi,
remaja, atau orang dewasa yang belum percaya kepada Kristus. Hal ini juga merupakan pendapat yang menentang baptisan
bayi, karena mengapa membaptis bayi, jika kemudian, setelah ia secara pribadi
menerima Kristus, ia harus dibaptiskan kembali?

 

(Tambahan dari
Dede: Jika seorang
Dibaptis Percik, kemudian diBaptis Selam alias dibaptis ulang, apakah SALAH?
Jelas Tidak salah, karena ketika diBaptis Selam, masih tetap dibaptis dalam
Nama yang SAMA entah itu hanya dalam nama Yesus, atau dalam nama Bapa,
Anak/Putra,dan  Roh Kudus.

Keyakinan bahwa
Baptis Percik tidak SAH dan Tidak ALKITABIAH/tidak sesuai dengan Ajaran
Alkitablah yang membuat seseorang mau dibaptis ulang atau dibaptis SELAM, atau
karena meyakini cara Baptisnya TIDAK BENAR menurut Alkitab, makanya ia ingin
dibaptis ulang dngen CARA YANG BENAR)

 

SAAT BAPTISAN

Contoh-contoh dalam
Perjanjian Baru menunjukkan bahwa orang percaya dibaptiskan segera setelah
mereka percaya. Tidak ada petunjuk tentang masa percobaan/katekisasi, walaupun
hal semacam itu mungkin dibenarkan untuk membuktikan kemurnian iman.

 

CARA BAPTISAN

1. dengan cara dipercik.

Argumen dan Bukti yang
diajukan

(1)     

beberapa upacara untuk pengudusan dalam
Perjanjian Lama termasuk pemercikan (Kel 24:6,7; Im 14:7; Bil 19:4,8), dan
semua ini digolongkan sebagai ”baptisan” dalam Ibrani 9;10

(2)     

pemercikan dengan jelas menggambarkan
penyucian yang dilakukan oleh Roh Allah seperti tercatat dalam Yeh 36:25

(3)     

baptisan mempunyai arti tambahan
(sekunder) sebagai ”membawa ke dalam pengaruh”, dan pemercikan dengan mudah
dapat menggambarkan hal itu.

(4)     

Cara selam tidak mungkin dapat dilakukan
dalam keadaan-keadaan tertentu (Kis 2:41, terlalu banyak orang; 8:38, terlalu
sedikit air di padang gurun; 16:33, terlalu sedikit air di dalam rumah)

(5)     

Mayoritas terbesar dari gereja yang
kelihatan mempraktikkan baptisan dengan cara bukan selam

 

2. dengan cara dituangkan
atau dicurahkan

Argumen dan Bukti yang
diajukan

(1)  

penuangan dengan baik sekali menggambarkan
pelayanan Roh yang datang dan msuk ke dalam kehidupan orang percaya (Yl
2:28,29; Kis 2:17,18).

(2)  

Ungkapan ”ke dalam air” dan ”keluar dari
air” dengan cara yang sama baiknya bisa diterjemahkan dengan ”menuju ke air”
dan ”menjauhi” air. Dengan  kata lain,
orang yang akan dibaptis itu menuju ke air, mungkin bahkan masuk ke dalam air,
tetapi tidak di bawah permukaan air seluruhnya.

(3)  

Lukisan-lukisan di katakombe menunjukkan
orang yang sedang dibaptis sedang berdiri kira-kira setinggi pinggang di dalam
air, sedangkan orang yang sedang membaptiskan menuangkan air ke atas kepala
orang tadi dari sebuah bejana yang dipegangnya.

 

3. dengan cara SELAM

Argumen dan Bukti yang
diajukan

(1)    

Penyelaman memang merupakan arti utama
dari kata BAPTIZO. Bahasa Yunani memiliki kosakata yang berarti pemercikan
(rantiso) dan penuangan yang tidak pernah digunakan untuk menjelaskan tentang
baptisan

(2)    

Penyelaman menggambarkan dengan tepat
sekali arti tentang baptisan, yaitu mati terhadap kehidupan yang lama dan
bangkit dalam kehidupan baru (Rm 6:1-4)

(3)    

Penyelaman sangat mungkin telah dilakukan
dalam setiap keadaan. Cukup tersedia banyak kolam di Yerusalem sehingga
memungkinkan 3000 orang yang bertobat dibaptis (SELAM) pada Hari Pentakosta.
Jalan ke Gaza itu sepi dan gersang, namun bukan berarti tak ada air.
Rumah-rumah seringkali memiliki kolam-kolam di luar rumah dimana, misalnya,
keluarga kepala penjara Filipi sangat mungkin telah dibaptis selam

(4)    

Baptisan proselit dilakukan dengan cara
menyelamkan diri sendiri ke dalam sebuah tangki air. Cara baptisan seperti
inilah yang mungkin biasa dilakukan dalam gereja Kristen

(5)    

Penuangan air, bukan pemercikan, merupakan
pengecualian pertama terhadap penyelaman dan diizinkan dalam kasus untuk
penderita sakit. Hal ini disebut ”baptisan klinis”. Cyprian (pada 248-258 SM)
merupakan orang pertama yang menyetujui cara pemercikan. Bahkan mereka yang
tidak menganut Baptis Selam menyatakan bahwa penyelaman merupakan Praktik yang
umum (universal) dalam gereja pada zaman para rasul (Bacalah Calvin,
Institutes, 4:15:19).

 

Sebuah pengamatan: Mereka  yang ingin
membenarkan cara pemercikan nampaknya memiliki jalan pemikiran sebagai berikut:
Jika Anda dapat menunjukkan bahwa cara lain dari penyelaman (seperti
penuangan/pencurahan) dipraktikkan pada awalnya, maka
secara sah Anda dapat mempraktikkan pemercikan,
walaupun hal itu terbukti tidak dilakukan dalam gereja
pada zaman para rasul.
Dengan kata lain, jika Penuangan dapat menjadi
suatu alternatif lain dari cara penyelaman yang universal, maka pemercikan juga
dapat. Akan tetapi, seandainya ada, bukti yang ada
hanya menunjukkan bahwa penuangan (jika hal itu pernah dilakukan) dapat dinggap
sama dengan penyelaman, tetapi pemercikan TIDAK DAPAT dianggap SAH sebagai
BAPTISAN.

 

PENYELAMAN sebanyak 3 Kali:
dengan cara ini orang yang dibaptiskan diselamkan sebanyak 3 kali (biasanya ke
depan) untuk melambangkan hubungan dengan Tuhan Trinitas/Tritunggal.

Didache menyatakan bahwa
apabila baptisan dengan cara SELAM TIDAK MUNGKIN DILAKUKAN, maka air harus dituangkan
sebanyak 3 kali di atas kepala (pasal 7). Perhatikan cara ini mula-mula tidak
berarti untuk menyelamkan sebanyak 3 kali, namun hanya menuangkan sebanyak 3
kali. Para pendukung cara ini menunjukkan bahwa beberapa leksikon mengatakan,
BAPTIZO berarti menyelamkan ke dalam air berulang-kali (tapi beberapa leksikon
tidak menyebutkan demikian). Bukti terhadap pandangan ini tidak kuat.

 

PENTINGNYA BAPTISAN

  1. Kristus dibaptis (Mat 3:16). Walaupun
    arti baptisanNya berbeda sama sekali dari arti baptisan orang Kristen,
    namun hal itu mengandung arti bahwa kita mengikuti Tuhan apabila kita
    dibaptis. Harus disadari, kita tidak akan pernah mampu meniru pribadi yang
    tidak berdosa; namun kita harus mengikuti langkah-langkahNya, dan baptisan
    merupakan salah satu langkahNya (1 Petrus 2:21).
  2. Tuhan menyetujui murid-muridNya untuk
    membaptiskan (Yoh 4:1-2).
  3. Kristus memerintahkan supaya orang
    percaya dibaptiskan pada zaman ini (Mat 28:19). Perintah ini jelas bukan
    hanya untuk para rasul yang mendengarnya, namun untuk para pengikutnya di
    sepanjang zaman, karena Ia berjanji akan menyertai mereka senantiasa
    sampai pada kesudahan zaman.
  4. Gereja mula-mula sangat mementingkan
    Baptisan (Kisah 2:38,41; 8:12,13,36,38; 9:18; 10:47,48; 16:15,33; 18:8;
    19:5). Gereja mula-mula sama sekali tidak menerima orang percaya yang
    tetap tidak dibaptiskan.
  5. Perjanjian Baru menggunakan ordonansi
    (upacara yang diperintahkan Tuhan untuk dilaksanakan Gereja) itu untuk
    menggambarkan atau melambangkan kebenaran teologis yang PENTING (Rm
    6:1-10; Gal 3:27; 1 Ptr 3:21).
  6. Penulis surat Ibrani mengatakan
    Baptisan merupakan suatu Kebenaran yang Mendasar (Ibr 6:1-2). Baptisan
    bukan lagi merupakan pilihan atau kurang penting bila dibandingkan dengan
    pengajaran tentang pertobatan, kebangkitan, dan penghakiman.

 

Sumber: Teologi Dasar 2,
Charles Caldwell Ryrie, PBMR ANDI, hal 223-228

 

AMSAL 23:23 Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga
dengan hikmat, didikan dan pengertian.

 

www.webkristiani.co.cc

www.dedewijaya.co.cc

www.dede-wijaya.co.cc

www.dedewijaya83.co.cc

http://dedewijaya.blogspot.com

http://dedewijaya83.blogspot.com

http://dedewijaya.multiply.com

http://dedewijaya83.multiply.com