MERDEKA atau MATI ? Demikian semangat para pejuang kemerdekaan negeri ini dalam memburu nikmatnya menjadi Tuan di negeri sendiri. Walau pada kenyatannya setelah merdeka, para pejuang tersebut luntang-lantung kian merana
Memasuki usia kemerdekaan RI yang ke-63, sewajarnya, bahkan seharusnya, rakyat Indonesia dibawa kepada hidup makmur, adil dan sejahtera, sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 45. Hal itulah yang dicita-citakan oleh para pejuang Republik ini. Untuk itulah mereka rela mengorbankan segalanya: harta benda, kenikmatan, bahkan nyawa mereka.
Esok hari, kita akan kembali memperingati HUT kemerdekaan bangsa kita. Kita akan kembali mengheningkan cipta untuk memperingati pengorbanan mereka. Marilah kita semua bangsa Indonesia melakukannya dengan jujur.
Jujur kepada diri sendiri dan juga kepada para pejuang bangsa, serta jujur kepada bangsa kita. Itulah cara terbaik memulihkan bangsa kita yang semakin terpuruk ini. Tindakan kebohongan dan kepura-puraan tidak akan pernah sedikitpun memperbaiki kondisi bangsa kita.
Memberantas "Penyakit" Negeri Ini
Masalah bangsa kita yang utama adalah masalah perbudakan dosa; bukan sekadar ketidak tahuan, juga bukan ketidakmauan. “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. Buah apakah yang kamu petik dari padanya?” (Rom.6:20-21a).
Ayat tersebut menegaskan betapa sulit atau bahkan tidak mungkin bagi kita mengharapkan perbaikan dan pembaharuan dari mereka yang masih hidup dalam perbudakan daging, dunia dan setan. Untuk itu, kita perlu memohon kemerdekaan yang sejati.
Setelah itu, seluruh umat Tuhan harus terlibat secara aktif dalam perjalanan, jatuh bangun, mati hidupnya bangsa ini. Kita tidak boleh hanya jadi penonton. Kita harus melibatkan diri sesuai kemampuan dan karunia kita masing-masing: Jadi guru/dosen atau pendidik yang benar, PNS yang setia, pekerja swasta yang tangguh, businessman yang cerdik dan tulus, politisi yang cerdas dan menjadi teladan.
Hal itulah yang sebenarnya ditegaskan oleh Tuhan Yesus ketika Dia menyerukan: “Kamu adalah garam dunia” dan “Kamu adalah terang dunia” (Mat.5:16-17). Garam dan dunia tidak dapat dipisahkan. Garam ada untuk dunia dan harus menyatu dengan dunia. Tanpa garam, dunia ini akan mengalami pembusukan.
Karena itu, ketika bangsa ini semakin membusuk, barangkali perlu ditanyakan tentang kesaksian umat Kristen. Apakah tidak ada peran dan pengaruhnya? Mengapa demikian? Tidak diberi peran, alias disingkirkan atau karena kehilangan makna garamnya?
Lebih Banyak Memberi
Tak perlu menunggu kaya untuk memberi. Dalam kemiskinan seseorang bisa memerdekakan orang lain. Jika nunggu kaya, mungkin kita takkan pernah memberi karena tidak pernah merasa kaya dan merdeka.
Kaya atau miskin sesungguhnya masalah perasaan. Ada orang kaya yang merasa miskin, sehingga tidak pernah memberi apa pun. Bagaimana mungkin memberi kalau dia merasa harus mendapatkan sesuatu dari orang lain? Sebaliknya, hanya orang yang merasa kaya dan merdekalah yang mampu memberi. Mungkin dia miskin, namun merasa kaya. Perasaan itulah yang membuatnya mampu memberi.
Benar-Benar MERDEKA ?
Bulan Agustus ini juga adalah bulan yang sangat spesial bagi negara dan seluruh masyarakat Indonesia. Begitu memasuki bulan Agustus, tampak berbagai aktivitas dan kesibukan mulai dilakukan untuk menyongsong hari istimewa, yakni tanggal 17 Agustus. Bulan Agustus dikatakan istimewa karena pada bulan inilah NKRI memperolah kebebasan dari penjajahan.
Benar-benar Merdeka? Ini adalah pertanyaan yang sangat menggelitik. Tetapi ini adalah pertanyaan filosofis yang mesti kita renungkan secara mendalam. Pada kenyataannya, masih banyak sekali umat Kristen hidup terjajah di zaman merdeka. Apa yang menjajah umat Kristen? Belenggu-belenggu dosa.
Belenggu tersebut begitu kuat mengikat seluruh kehidupan kita, sehingga kita tidak berdaya melepaskannya.
Merdeka Lahir Batin (Perspektif Kristiani)
Kemerdekaan memiliki dimensi yang luas. Setelah dosa-dosa kita diampuni saat kita percaya kepada Yesus Kristus, ada kemungkin kita jatuh ke dalam berbagai perbudakan lain. Jika tidak hati-hati, kita bisa diperbudak oleh berbagai ajaran tradisi dan filsafat manusia yang menyesatkan. Seperti jemaat Galatia, mereka berada dalam bahaya untuk dibawa kembali ke dalam perbudakan hukum Taurat, maka rasul Paulus dengan serius menasehati mereka untuk tidak membiarkan diri mereka kembali diperbudak, sebaliknya mempertahankan kemerdekaan mereka dalam Kristus (Gal 5:1).
Tanpa pengertian akan Injil anugerah yang utuh, kita dapat hidup di bawah perbudakan dosa, yaitu dengan menyalahgunakan ajaran kemerdekaan Kristen kita menjadikannya sebagai kesempatan untuk berbuat dosa. Kita berargumentasi bahwa roh memang penurut, tetapi daging lemah.
Kita tidak mungkin dapat melakukan perintah Allah dengan sempurna, karena itu, kalau kita berdosa Allah sudah menyediakan pengampunan dalam Kristus. Dengan demikian, kita tidak merasa perlu untuk sungguh-sungguh bertobat dan cendrung terus berbuat dosa dengan enteng.
Alangkah memalukan jika kita yang membanggakan iman Kristen kita dan menganggap telah mendapat anugerah yang lebih dari orang lain, tetapi didapati berprilaku lebih buruk daripada orang-orang non-Kristen. Kepada kita, Paulus menasehati supaya kita jangan mempergunakan kemerdekaan kita itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih (Gal 5:13; 1Pet 2:16)
Keselamatan Kristus lebih luas daripada sekedar masuk sorga; itu adalah suatu kuasa yang memerdekakan kita secara menyeluruh, yang memungkinkan kita untuk hidup berkemenangan dalam semua aspek hidup di dunia ini (Gal 1:4). Tetapi sayang, dalam kehidupan kita, ada banyak hal buruk yang masih menguasai kita untuk melakukan kehendaknya yang buruk.
Kita melihat orang Kristen yang masih dikuasai oleh dendam dan tidak mampu mengampuni; saling menghina; saling membenci; melakukan berbagai kecurangan; menjadi tamak harta dan mengejar kuasa dan keuntungan pribadi; dan menjadi hamba kesenangan. Bahkan Martin Luther, salah seorang tokoh Kristen yang paling penting setelah rasul Paulus, juga tidak lepas dari kesalahan ketika ia menunjukkan sikap yang sangat antipati kepada orang Yahudi; Demikian juga Martin Luther King, Jr. salah satu tokoh Kristen besar pada abad ke-20 memakai tulisan orang lain tanpa mengakui namanya untuk mendapatkan kebesaran bagi dirinya sendiri.
Banyak orang yang hidup tidak sebagaimana seharusnya yang dikehendaki Allah. Karena kita masih dikuasai oleh begitu banyak kebodohan, kesalahan, dsb. Dalam hidup kita ada banyak musuh, seperti yang dikatakan dalam lagu kita, mereka adalah: si aku sendiri; si setan; dan dunia ini. Apakah kita betul-betul telah dimerdekakan dari sifat-sifat buruk dalam diri kita; Apakah kita masih berada di bawah tipu daya Iblis dan dunia ini, atau sebaliknya kini kita telah hidup kemerdekaan sejati di dalam kebenaran Kristus ( Yoh 8:31-32).
Happy Birthday Indonesia
GOD BLESS INDONESIA
1:25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.
2:16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
- Log in to post comments