Mercusuar Bell Rock Hai ..., aku mau sharing ni soal pengalamanku dan apa yang aku dapat setelah kemarin ikut seminar kepemimpinan yang digelar atas kerja sama YLI dan YLSA pada 29 Feb - 1 Mar 2008 lalu. Kuharap, yang lain, yang juga ikut seminar juga mau untuk membagikan apa yang kemarin didapat melalui komunitas Solo Leadership.


Secara umum, seminar jalannya baik sekali, materi, pembicara, dan cara penyampaiannya semuanya excellent!

Aku sempet kepikiran kemarin, "Sayang, harusnya yang ikut seminar itu lebih banyak, cos rugi banget soalnya kalo ngga ikut, banyak banget yang bisa didapat melalui seminar ini."

Dari banyak wawasan soal kepemimpinan yang kudapat, ku pengin sharing soal film yang kemarin diputar waktu seminar. Film itu adalah kisah di balik berdirinya Bell Rock, sebuah mercusuar penyelamat jiwa yang berdiri kokoh di tengan laut (lihat gambar).

Yang bisa dipelajari dari Bell Rock itu adalah usaha dan kepemimpinana sang pendiri dan perancangnya. Sebelum berdiri mercusuar di sana, Bell Rock adalah sebuah bongkahan karang besar yang ada di tengah laut. Saat malam menjelang, dan air laut mulai pasang, karang besar itu tertutup oleh air laut. Karena itu, banyak sekali kapal yang akhirnya menabrak karang itu, kemudian tenggelam. Bell Rock telah menelan ratusan bahkan ribuan jiwa manusia.

Atas dasar itu, Stevenson, seorang arsitek yang terdaftar menjadi anggota organisasi pembangungan mercusuar di Skotlandia, memiliki visi untuk membangun sebuah mercusuar di atas karang itu, sebagai tanda bagi kapal-kapal yang melintas di sekitarnya.

Untuk mewujudkan visinya itu, ia pantang menyerah. Sempat proposal pembangunan mercusuar di karang itu ditolak oleh dewan pembangunan mercusuar. Memang pada saat itu, pembangunan mercusuar di atas karang yang ada di tengah laut, hampir mustahil untuk dilakukan, dan biaya yang dibutuhkan juga sangat besar. Namun pada akhirnya, proposalnya diterima. Ia mendapat persetujuan untuk membangun sebuah mercusuar di karang itu di bawah pengawasan seorang arsitek senior, Rennie.

Mulailah ia mengumpulkan pekerja, dan mulai mengerjakan proyeknya. Butuh bertahun-tahun dan perjuangan yang berat untuk membangun mercusuar itu. Untuk menggali fondasi saja, Ia dan para bawahannya harus tinggal di sebuah kapal selama berbulan-bulan, saat air surut, mereka naik kapal kecil menuju karang dan mulai menggali karang, saat air pasang, mereka kembali lagi ke kapal besar dengan kapal kecil tadi. Banyak cobaan yang dihadapi oleh Stevenson dalam mengerjakan proyeknya itu -- tenggelamnya salah satu pekerjanya, dan yang paling berat, kematian ketiga anaknya hanya dalam waktu beberapa minggu. Namun ia pantang menyerah. Ia mampu memimpin dirinya sendiri untuk dapat mewujudkan visinya. Dan karena ia mampu memimpin dirinya sendiri, yang disebut Pak Robby I. Chandra (pembicara seminar kemarin) dengan istilah "leading in", ia mampu memimpin atasannya (leading up), Renni, dan memimpin bawahannya (leading down).

Ia juga percaya diri, ia percaya bahwa mercusuarnya akan berdiri kokoh dan ia pun juga percaya dan mendapatkan kepercayaan para bawahannya. Saat kepercayaan (trust) itu ada, maka semua yang dilakukan akan berhasil. Salah satu yang terpenting dalam kepemimpinan adalah trust, trust God, trust others, and trust yourself.

Mercusuar itu berdiri sekitar awal tahun 1800-an dan sampai kini mercusuar itu tetap berdiri kokoh di tengah gerusan air laut dan sejak itu karang yang terkenal dengan nama Bell Rock itu tak pernah lagi menelan korban jiwa -- buah kerja keras, kepercayaan diri, visi, dan jiwa kepemimpinan yang baik yang dimiliki Stevenson -- Luar Biasa!

Nah, itu kira-kira sekilas dari banyak yang kudapat di seminar yang dibawakan Pak Robby, jika dirasa kurang lengkap, komentari dong. Aku tunggu sharing-sharing dari peserta-peserta seminar yang lain. Yuk belajar sama-sama di sini. God bless!